GERAKAN WAKAF TUNAI

Oleh : H. Muhdam Kamaludin, M.Pd

Wakaf secara bahasa berasal dari kata waqafa-yaqifu yang artinya berhenti, lawan dari kata istamarra. Adapun secara istilah, wakaf menurut Abu Hanifah adalah menahan harta di bawah naungan pemiliknya disertai pemberian manfaat sebagai sedekah ((al-Hasfaki, t.th./IV: 532). Kemudian, menurut Jumhur ulama , wakaf adalah menahan harta yang memungkinkan untuk mengambil manfaat dengan tetapnya harta tersebut serta memutus pengelolaan dari wakif dan selainnya dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Dengan demikian  yang dimaksud dengan wakaf adalah menahan harta yang dapat dimanfaatkan tanpa lenyap bendanya (pokoknya) dengan cara tidak melakukan tindakan hukum terhadap benda tersebut, disalurkan pada sesuatu yang mubah (tidak haram) yang ada,” (al-Ramli, Nihayah al-Muhroj ila Syarh al-Minhaj, [Beirut: Dar al-Fikr, 1984], juz V, h. 357Sedangkan yang dimaksud dengan wakaf tunai/Wakaf Uang (Cash Wakaf/Waqf al-Nuqud) adalah wakaf yang dilakukan seseorang, kelompok orang, lembaga atau badan hukum dalam bentuk uang tunai.Termasuk ke dalam pengertian uang tunai  adalah surat-surat berharga.

Sejak tahun 2002 M/1423 H. Majlis Ulama Indonesia (MUI) Pusat melalui komisi fatwa MUI menerangkan bahwa hukum wakaf tunai (cash wakaf) adalah  jawaz atau boleh. Hal ini dilandasi dengan berbagai literasi pandangan para fuqoha antara lain :

  1. Pendapat Imam al-Zuhri (w.124 II.) bahwa mewakafkan dinar hukumnya boleh, dengan cara menjadikan dinar tersebut sebagai modal usaha kemudian keuntungannya disalurkan pada mauquf ‘alaih. (Abu Su’ud Muhammad, Risalah fi Jawazi Waqf al-Nuqud, [Beirut: Dar Ibn Hazm, 1997], h.20-21)
  2. Mutaqaddimin dari ulama mazhab Hanafi (lihat Wahbah al-Zuhaili, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, [Damsyiq: Dar al-Fikr, 1985], juz VIII, h. 162) membolehkan wakaf uang dinar dan dirham sebagai pengecualian, atas dasar Istihsan bi al-‘Urfi, berdasarkan atsar Abdullah bin Mas’ud ra :
    “Apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin maka dalam pandangan Allah adalah baik, dan apa yang dipandang buruk oleh kaum muslimin maka dalam pandangan Allah pun buruk.”
  3. Pendapat sebagian ulama mazhab al-Syafi’i :
    “Abu Tsaur meriwayatkan dari Imam al-Syafi’I tentang kebolehan wakaf dinar dan dirham (uang).” (al-Mawardi, al-Hawi al-Kabir, tahqiq Mahmud Mathraji, [Beirut: Dar al-Fikr, 1994], juz IX, h.379).
  4. Pandangan dan pandangan rapat Komisi Fatwa MUI pada hari Sabtu, tanggal 23 Maret 2002, antara lain tentang perlunya dilakukan peninjauan dan penyempurnaan (pengembangan) definisi wakaf yang telah umum diketahui dengan memperhatikan maksud hadits, antara lain riwayat dari Ibnu Uar (lihat konsideran mengingat [adillah] nomor 4 dan 3 di atas:
  5. Pendapat rapat Komisi  Fatwa  MUI pada Sabtu, tanggal 11 Mei 2002 tentang rumusan  tentang definisi wakaf adalah sebagai berikut :
    yakni menahan harta yang dapat dimanfaatkan tanpa lenyap bendanya atau pokoknya, dengan cara tidak melakukan tindakan hukum terhadap benda tersebut (menjual, memberikan atau mewariskannnya), untuk disalurkan (hasilnya) pada sesuatu yang mubah (tidak haram) yang ada,”
  6. Surat Direktur Pengembangan Zakat dan Wakaf Depag, (terakhir) nomor Dt.I.III/5/03.2/2772/2002tanggal 26 April 2002.

Dengan keluarnya fatwa MUI tersebut, maka lembaga-lembaga pengelolaan ZISWAF berlomba – lomba untuk mensosialisasikan dan melaksanakan fatwa tersebut. Hal ini dikarenakan fatwa tersebut merupakan jalan keluar dari persoalan sebagian kaum muslimin yang ingin berwakaf namun terkendala harta yang dimiliki (baca tanah/bangunan) tidak memungkinkan untuk berwakaf. Oleh sebab itu adanya pemikiran yang progresif tentang wakaf uang ini tentu saja sangat diharapkan oleh kaum muslimin. Adapun keuntungan berwakaf dengan uang (cash wakaf) adalah :

  1. Lebih fleksibel. Harta yang diwakafkan dalam bentuk uang tunai akan memudahkan pengelola untuk memanfaatkan harta wakaf ini ke berbagai kegiatan usaha yang produktif
  2. Lebih cepat terambil manfaatnya. Dengan berwakaf uang tunai, maka hari ini berwakaf, maka sebulan kemudian (apabila didepositokan), maka bulan depan akan langsung mendapatkan hasilnya dan langsung bisa disalurkan. Bandingkan dengan wakaf tanah, hari ini kita berwakaf tanah, maka waakif harus menunggu hasil panen dari pengelolaannya (itupun kalau hasil) baru bisa disalurkan
  3. Hasilnya lebih produktif. Karena cepat memberikan hasil, maka perputaran dan penyebaran manfaatnya pun akan lebih cepat
  4. Mengakomodasi seluruh lapisan masyarakat. Wakaf tunai bisa dilakukan oleh siapa saja. Tidak perlu menunggu besar atau banyak harta anda, dengan seribu rupiahpun anda akan langsung bisa memulai berwakaf.

Dengan demikian Baitul Maal Khairu Ummah, sebagai lembaga yang konsern terhadap penghimpunan dan penyaluran Ziswaf, tentu saja konsep wakaf tunai atau wakaf uang ini menjadi salah satu program yang mendapatkan perhatian kami. Implementasi  dari program wakaf tunai ini adalah :

  1. Program edukasi wakaf. Program ini akan dilaksanakan bekerjasama dengan Majlis Wakaf Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Bogor dengan mengundang seluruh majlis wakaf di tingkat cabang serta baitul maal yang ada di sekitar Bogor Barat. Tujuan dari program ini adalah adanya penyadaran kepada para pengelola wakaf, bahwa potensi wakaf tunai dari masyarakat kita begitu besar, sehingga produktifitas dari penghimpunan wakaf itu bisa lebih optimal
  2. Program Gerakan Sadar Wakaf. Program ini kami mulai dari internal manajemen Koperasi Khairu Ummah yakni dengan mewajibkan semua pengawas, pengurus dan seluruh manajemen Koperasi Khairu Ummah untuk berwakaf seribu sehari yang akan dipooling setiap akhir bulan menjelang pembagian gaji. Tujuan dari program ini adalah sebagai sebuah upaya “penyadaran” bagi seluruh stakeholder Koperasi Khairu Ummah untuk menyisihkan sebagian kecil hartanya untuk tabungan kebaikan diakhirat kelak.
  3. Program Wakaf Mitra. Program ini berkaitan dengan kebijakan kebajikan dari pimpinan Koperasi Khairu Ummah, dimana biaya administrasi dari mitra pembiayaan yang biasanya 1 % dari total pembiayaan, kini 0.25% nya dimasukan ke dalam wakaf. Dengan demikian setiap mitra yang melakukan pembiayaan, maka secara otomatis akan berwakaf. Sehingga kami berharap rogram ini bisa membawa kebaikan serta kebarokahan bagi mitra kita pada khususnya dan pada lembaga kita pada umumnya.

Dari program yang kami gulirkan terkait dengan kebijakan wakaf tunai, kami tentu saja  berharap ada ekses positif antara lain :

  1. Pembentukan karakter manajemen Koperasi Khairu Ummah. Dengan kesadaran berwakaf ini diharapkan timbul kesadaran sosial yang akan menjadi karakter yang melekat bagi seluruh insan koperasi Khairu Ummah
  2. Kebermanfaatan yang bersifat kontinu/terus menerus. Dengan terkumpulnya wakaf tunai ini, kami tentu akan mengoptimalkan dana ini sehingga mengahasilkan profit yang bisa langsung disalurkan kepada yang membutuhkan (maukuf alaih), terutama untuk membantu suatu proses pendidikan (beasiswa pendidikan) dalam rangka ikut serta untuk  mempersiapkan kader ummat dimasa yang akan datang. Dengan demikian manfaat ini akan mengalir terus menerus kepada muwakif, nadzir wakaf serta maukuf alaih. Insya Allah Aaamiiin.
  3. Penguatan permodalan koperasi. Dengan terkumpulnya wakaf tunai dalam jumlah yang besar, hal ini tentu saja dapat membantu koperasi dari sisi permodalan. Koperasi dapat memberdayakan uang wakaf ini untuk di produktifkan dalam bentuk pembiayaan lembaga kepada mitra koperasi.

Pada akhirnya kami berharap bahwa gerakan wakaf tunai ini dapat menjadi stimulan positif dalam perekonomian ummat yang dapat menghasilkan gelombang perubahan sosial menuju kemandirian ekonomi ummat.

H Muhdam Kamaludin, M.Pd

(Manajer Baitul Maal Khairu Ummah)

Scroll to Top